Kebijakan Pendirian ATM Kondom Dalam Rangka Penanggulangan Penyakit Menular Seksual (PMS)

 

Mengapa Pembuatan ATM kondom  menjadi agenda kebijakan?

Menjamurnya tempat-tempat hiburan dunia malam menyebabkan semakin meningkatnya kasus penyakit menular seksual, seperti infeksi klamidia, human papillomavirus (HPV), gonore, herpes simpleks tipe II, sifilis, trikomoniasis, hepatitis B dan HIV/AIDS. Penyakit menular seksual (PMS) seringkali tidak menunjukkan gejala dan bila ada gejala, penderitanya banyak yang malu untuk mengobatinya. Akibatnya, tingkat jangkitan (prevalensi) penyakit ini lebih rendah daripada yang diduga. Fenomena ini mengakibatkan munculnya bahaya yang sulit untuk diprediksi terutama bahaya penyebaran HIV/AIDS.

HIV/AIDS menjadi isu masalah utama dari sekian banyak kasus PMS  yang harus ditanggulangi oleh pemerintah karena :

  1. Cara penularan yang spesifik salah satunya melalui hubungan seks, artinya seorang suami yang menderita PMS dapat menularkan kepada orang-orang terdekat (istri dan anak)
  2. Belum ditemukannya obat untuk menanggulangi HIV/AIDS.
  3. Efek  yang mematikan jika berkomplikasi dengan penyakit infeksi tertentu.

Oleh sebab itu pemerintah memandang perlu didirikannya ATM kondom sebagai salah satu  upaya menekan angka penderita PMS.

 

Argumen kebijakan yang lemah

Kebijakan pendirian ATM kondom ditempat-tempat yang beresiko tinggi, seperti di lokalisasi/tempat-tempat pelacuran lebih tepat dibandingkan dengan pendirian ATM yang tidak menjadikan lokasi sebagai pertimbangan. Penolakan elemen masyarakat terhadap pendirian ATM kondom, mereka menilai  ATM kondom   bertentangan dengan norma agama dan kesusilaan serta budaya nusantara. Namun kebijakan pendirian ATM kondom pada lokasi yang beresiko tinggi belum merupakan solusi yang tepat dalam menekan angka penderita penyakit menular seksual jika tidak diikuti dengan mengubah prilaku seks pada masyarakat untuk tidak melakukan seks bebas dan setia pada pasangan. Selain itu penyakit menular seksual terutama HIV/AIDS tidak hanya dapat di transmisi melalui hubungan seksual tetapi dapat melalui cara lain, seperti jarum suntik pada pecandu narkoba dan tatto, transfusi darah yang positif HIV, dari ibu hamil/menyusui kepada bayinya dan lain-lain.

 

Efektifkah kebijakan ini?

Kebijakan pendirian ATM kondom pada lokasi-lokasi tertentu tidak akan efektif menurunkan angka kejadian penyakit menular seksual jika tidak diintegrasikan dengan penyuluhan untuk merubah prilaku masyarakat terutama tentang seks sehat, setia pada pasangan dan ceramah keagamaan untuk menumbuhkan keimanan dan takwa sebagai alat kontrol prilaku. Selain itu upaya penutupan lokalisasi merupakan langkah penting dalam menanggulangi permasalahan ini dengan catatan para penjaja seksual diberi pelatihan dan keterampilan sebagai bekal untuk kemandirian jika berhenti dari profesi mereka.

 

Apa akar masalahnya tepat?

Penduduk Indonesia yang religius menganggap pendirian ATM kondom sebagai bentuk pelegalan perzinaan di Indonesia.

Pendirian ATM kondom akan menimbulkan rasa penasaran dan rasa keingintahuan remaja, sehingga dikuatirkan akan munculnya seks bebas usia dini sebagai bentuk pemenuhan rasa penasaran dikalangan remaja usia sekolah.

Menjamurnya ATM kondom akan menyebabkan hilangnya rasa malu dikalangan penduduk untuk membeli kondom dibandingkan dengan pembelian kondom di apotik karena ATM kondom tidak melibatkan manusia dalam transaksi jual belinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s