Kebijakan Pemberian Stimulant Paket Jamban sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat dalam Rangka Pencapaian Target Cakupan dan Akses Masyarakat terhadap Jamban

Salah satu masalah sanitasi yang ada di Kabupaten Boyolali adalah masih rendahnya cakupan dan akses masyarakat terhadap jamban. Cakupan kepemilikan jamban baru sekitar 69,8% dari total jumlah rumah yang ada. Sedangkan untuk akses terhadap jamban baru sebesar 79,1 %, jauh dibawah target MDG’s yaitu 100%.  Hal ini dipengaruhi oleh banyak factor, antara lain tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat, social budaya, status ekonomi, ketersediaan air bersih dan sarana yang kurang memadahi.

Status ekonomi berkontribusi terhadap rendahnya cakupan dan akses terhadap jamban terutama jamban sehat. Kemampuan ekonomi masyarakat terutama masyarakat miskin sangat rendah, sehingga masyarakat tidak mampu membuat jamban, karena untuk membuat jamban membutuhkan biaya yang tidak murah. Hal inilah yang menyebabkan jumlah penduduk dengan cakupan kepemilikan dan pemanfaatan jamban rendah.

Dari segi pengetahuan, masih banyak masyarakat yang belum mengerti betapa berbahayanya jika kita buang air besar sembarangan. Rendahnya pengetahuan masyarakat akan penyakit – penyakit yang dapat ditularkan melalui air sangat berpengaruh terhadap kebiasaan buang air besar mereka. Kurangnya informasi tentang penggunaan jamban di masyarakat membuat kebiasaan buang air besar di sembarang tempat sulit dirubah.

Tantangan lain dalam menghadapi masalah sanitasi adalah sosial budaya dan perilaku masyarakat yang masih terbiasa buang air besar di sembarang tempat, khususnya di badan air yang juga digunakan untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan higienis lainnya. Dilihat dari segi social budaya, masyarakat boyolali masih ada yang mempunyai kebiasaan buang air besar di sungai. Hal ini akan mengakibatkan air terkontaminasi dan menjadi sumber infeksi penyakit – penyakit yang ditularkan melalui air. Hal ini sejalan juga dengan tingkat penididikan yang rendah. Semakin rendah tingkat pendidikan masyarakat akan semakin susah merubah kebiasaan mereka buang air besar sembarangan.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut ada beberapa alternative kebijakan yang bisa diterapkan antara lain dengan pemberdayaan masyarakat, Promosi Kesehatan yang lebih intensif, meningkatkan dukungan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam meningkatkan perilaku higienis dan saniter serta melakukan advokasi dan sosialisasi kepada pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya secara berjenjang.

Pemberdayaan bertujuan agar masyarakat merasa lebih terpicu untuk merubah perilaku mereka dari Buang air besar di sembarang tempat menjadi buang air besar di jamban. Karena prinsip pemberdayaan adalah dari, oleh dan untuk masyarakat. Kegiatan pemberdayaan yang saat ini sedang gencar dilakukan adalah Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ( STBM ). Upaya promosi kesehatan juga merupakan alternative kebijakan yang bisa dijalankan. Upaya – upaya promosi yang bisa dilakukan antara lain penyuluhan, kampanye Stop Buang Air Besar Sembarangan, Pemutaran film ke desa – desa terpencil yang diselingi pesan – pesan kesehatan, dan sebagainya. Dengan upaya promotif ini masyarakatt diharapkan meningkat pengetahuannya, khususnya pengetahuan mengenai Stop BABS.

Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan cakupan kepemilikan dan akses masyarakat terhadap jamban. Ada pula upaya tidak langsung yang dilakukan yaitu dengan melakukan sosialisasi dan advokasi kepada para pemangku kebijakan. Hal ini dimaksudkan agar program dan kegiatan yang sudah direncanakan mendapat dukungan baik moral maupun material.

Dari beberapa alternative kebijakan di atas Pemerintah Kabupaten Boyolali menjadikan Pemberdayaan masyarakat sebagai langkah yang tepat untuk meningkatkan cakupan dan akses masyarakat terhadap jamban. Salah satu upaya pemberdayaan Di Kabupaten Boyolali adalah dilaksanakannya Program Pengembangan lingkungan sehat. Bentuk kegiatannya berupa penyediaan / pengawasan sarana air bersih, jamban dan sarana pembuangan air limbah dimana kegiatan ini lebih dititikberatkan pada penyediaan jamban bagi masyarakat miskin. Kegiatan ini menjadi salah satu kebijakan yang dianggap strategis karena berfihak untuk masyarakat miskin. Selain bisa memberikan manfaat yang positif bagi masyarakat, kegiatan ini mempunyai dampak pencitraan yang positif pula bagi para pengambil kebijakan. Dengan adanya kegiatan ini masyarakat penerima bantuan diharapkan mampu mewujudkan stimulant yang diberikan menjadi sebuah bangunan jamban yang layak. Sejak tahun 2008 kebijakan ini terus digulirkan dan anggarannya pun selalu mendapatkan prioritas. Pada tahun 2012 ada 483 paket stimulant jamban yang diberikan untuk masyarakat miskin. Paket tersebut berisi closet, pipa, pintu dan semen. Paket yang diberikan hanya berupa stimulant karena harapannya masyarakat bisa terpicu dengan adanya stimulant ini dan tidak hanya menggantungkan pada pemerintah saja. Tidak hanya dari Pemerintah Kabupaten Boyolali saja, bantuan serupa juga diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Tujuannya sama yaitu untuk meningkatkan cakupan dan akses masyarakat terhadap jamban, hanya paket bantuannya saja yang berbeda, bahkan kalau dirupiahkan nilainya lebih besar. Kebijakan ini akan terus berkesinambungan hingga cakupan dan akses masyarakat terhadap jamban memenuhi target.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s