Kebijakan Kampanye penggunaan kondom

 

Nama : Aris Dzulfikri

Minat : FETP

Mengapa Kampanye penggunaan kondom menjadi kebijakan
Dari data di lapangan menunjukkan 2,3 juta remaja melakukan aborsi setiap tahunnya, oleh karena itu diperlukan kebijakan yang mampu menekan angka aborsi. Salah satu kebijakan yang bisa diambil adalah dengan mempermudah akses para remaja untuk mendapatkan kondom, kebijakan ini menurut Menkes dianggap efektif dan efisien. Menkes juga berdalih bahwa gebrakannya itu sebagai langkah untuk memastikan terjaminnya hak setiap anak yang dikandung sesuai UU Perlindungan Anak. Maka, mempermudah akses remaja untuk mendapatkan kondom diharapkan dapat menekan angka aborsi dan kehamilan yang tak diinginkan. Lucunya dalam menanggapi kekhawatiran bahwa pemberian kondom kepada remaja dapat memicu seks bebas, Menkes berpendapat, jika pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi sudah cukup baik, tidak perlu ada kekhawatiran idenya ini akan memicu seks bebas. Dalam hal ini kontroversi menkes baru tentang ini datang dari MUI. Menurut MUI, kondom hanya boleh digunakan pasangan suami istri sebagai alat kontrasepsi atau pencegah kehamilan, karena memang sudah menjadi program pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional.
Argumen Kebijakan
Topik ini dianggap cukup kontroversial dan tidak jarang menjadi sorotan dari pihak-pihak tertent. Penentangan akan kampanye penggunaaan kondom ini juga datang dari mayoritas masyarakat kita yang masih mengganggap bahwasannya pemakaian kondom ini hanya untuk yang telah terikat dalam pernikahan sebagai suatu alat kontrasepsi. Tetapi kampanye menkes tentang kondom ini seolah-olah dianggap masyarakat seperti ‘melegalkan’ seks bebas yang menghindarkan adanya kehamilan. Keinginan menkes mengkampanyekan kondom untuk mencegah tingginya angka aborsi dan juga mencegah penularan HIV/AIDS di kalangan kaum muda juga tidak dipahami oleh kebanyakan masyarakat kita yang masih memegang teguh ajaran agama dan juga budaya timur Bangsa Indonesia.
Tujuan bu menkes bila dipandang dari sudut kesehatan mungkin adalah salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan HIV/AIDS dan juga tingginya angka aborsi di kalangan remaja bangsa kita. Tetapi Bangsa kita juga mempunyai budaya serta pegangan agama yang tentunya melarang akan hubungan bebas, seks bebas dan sejenisnya.
Efektifkah kebijakan ini?
Menurut Menteri Kesehatan, kampanye ini menjadi penting, mengingat masih banyak kasus kehamilan yang tidak direncanakan terjadi pada anak-anak remaja. Terlebih lagi berdasarkan data BKKBN, ada sekitar 2,3 juta wanita dewasa muda yang melakukan aborsi karena melakukan hubungan seks di luar nikah. “Oleh karena itu, ada kampanye yang menyasar generasi muda 15-24 tahun. Sekilas, strategi ini dapat digunakan untuk menekan penyebaran HIV-AIDS yang terus meluas. Namun, efektivitas kebijakan ini terhadap permasalahan HIV-AIDS masih perlu dikritisi. Pertama, harus ada data mengenai penggunaan kondom di kelompok berisiko, pekerja seks komersil misalnya, apakah sebenarnya sudah pernah dicoba dan bagaimana hasilnya. Jika kondom sudah digunakan oleh pekerja seks komersil sebelumnya dan sampai sekarang belum ada perubahan yang berarti, itu tanda bahwa hal ini tidak efektif dilakukan. Kedua, perlu diketahui secara klinis berapa besar kemampuan kondom untuk mencegah penularan penyakit seksual. Perlu ada bukti mengenai seberapa besar kondom dapat melindungi penggunanya atau orang lain dari penyakit seksual.
Apakah akar masalahnya tepat?
Sekilas, strategi ini dapat digunakan untuk menekan penyebaran angka aborsi yang terus meningkat. Namun, efektivitas kebijakan ini terhadap permasalahan aborsi masih perlu dikritisi. Pertama, harus ada data mengenai penggunaan kondom di kelompok berisiko, anak usia sekolah misalnya, apakah sebenarnya sudah pernah dicoba dan bagaimana hasilnya. Jika kondom sudah digunakan oleh para remaja sebelumnya dan sampai sekarang belum ada perubahan yang berarti, itu tanda bahwa hal ini tidak efektif dilakukan. Kedua, perlu diketahui secara klinis berapa besar kemampuan kondom untuk mencegah terjadinya kehamilan. Perlu ada bukti mengenai seberapa besar kondom dapat melindungi penggunanya atau orang lain dari terjadinya kehamilan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s