Kebijakan Akses Kontrasepsi Kondom pada Remaja sebagai Pencegahan HIV-AIDS

 

Nama : Fitriani

Minat : PPK

Kampanye akses kondom pada remaja sebagai salah satu pencegahan penyebaran HIV pada remaja adalah sebuah kebijakan yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI, Nafsiah Mboi pada awal kepemimpinannya. Dilihat dari berbagai kacamata, baik kacamata agama maupun pendidikan, jelas langkah ini menimbulkan pro kontra yang sangat hebat di masyarakat. Kebijakan ini tidak mendidik remaja yang sedang dalam masa perkembangan untuk berfikir dua kali sebelum bertindak bila dilihat dengan kacamata pendidikan. Dari kacamata agama, jelas-jelas langkah ini salah, karena tentu saja memberikan akses kondom pada remaja merupakan salah satu indikasi ‘ijin’ dari masyarakat pada remaja untuk melakukan premarital seks atau seks sebelum menikah. Namun apakah betul bahwa kebijakan ini hanya memberikan efek negatif pada remaja?

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kasus HIV pada orang usia produktif (20-29 tahun) memang cukup tinggi. Melihat perjalanan virus HIV menjadi AIDS yang bisa menelan waktu bertahun-tahun, maka bukan tidak mungkin apabila seseorang telah mengidap HIV sejak mereka remaja (15-24 tahun). Hal ini mengindikasikan bahwa sejak usia remaja seseorang telah seksual aktif. Pernyataan ini dikuatkan dengan banyaknya hasil survey, penelitian maupun artikel mengenai perilaku seksual remaja di kota-kota besar yang sudah sangat hebat. Selain itu, jumlah kasus HIV-AIDS karena penggunaan narkoba suntik sudah menurun, sehingga penggunaan narkoba suntik pada remaja bukan lagi isu utama dalam penularan HIV-AIDS. Melihat kenyataan ini, mau tidak mau pemerintah juga harus menjadikan remaja sebagai target utama dalam upaya pencegahan penularan HIV-AIDS.

Untuk itu, Pemerintah harus menyelesaikan masalah perilaku seksual remaja terlebih dahulu apabila ingin menghentikan penyebaran HIV pada remaja. Apabila dicermati ada setidaknya 3 opsi lain selain akses kondom pada remaja yang dirasa lebih ‘aman’, yaitu pemberian informasi HIV-AIDS dan kesehatan reproduksi pada remaja dengan metode yang hingga saat ini dirasa paling efektif, yaitu peer education, memasukkan kurikulum kesehatan reproduksi pada pelajaran sekolah dan peningkatan pelayanan kesehatan ramah remaja. Namun begitu kenapa opsi terakhir, yaitu akses kondom untuk remaja yang terpilih?

Peer education adalah salah satu cara pendidikan kesehatan yang konsepnya berakar dari pemberdayaan masyarakat. Remaja akan paham akan informasi dan mau untuk menyampaikan permasalahannya apabila informasi tersebut disampaikan oleh teman sebayanya. Namun begitu, saat ini perlu dipertanyakan mengenai keefektifan pencegahan dengan metode ini. Saat ini, pemerintah dengan berbagai lembaganya seperti BKKBN dan Dinas Kesehatan telah membentuk, memprakarsai dan melatih puluhan hingga ratusan peer educator untuk menyampaikan informasi terkait kesehatan reproduksi dan HIV-AIDS pada teman sebayanya, namun angka seksualitas remaja masih saja cukup tinggi, terutama di kota-kota besar yang pastinya mendapatkan perhatian besar dari pemerintah. Hal ini bisa disebabkan karena praktek peer education yang belum sesuai konteks. Dapat dilihat di beberapa sekolah, peer educator telah terbentuk, namun pelaksanaan monitoring dan evaluasi tidak berjalan baik sehingga banyak peer educator di beberapa sekolah yang mati suri, ada nama namun tidak ada kegiatan.

Opsi kedua, yaitu dengan memasukkan kurikulum kesehatan reproduksi, telah digagas selama bertahun-tahun, namun dalam prakteknya gagasan ini berhenti di tingkat Pemerintah. Egoisme beberapa Kementrian untuk mewujudkan gagasan ini masih sangat dirasakan. Beberapa masih berfikir konservatif dengan menganggap bahwa pendidikan kesehatan reproduksi berarti mengajar anak didik cara untuk melakukan hubungan seksual. Guru-guru juga berpendapat bahwa beban yang mereka miliki cukup banyak sehingga untuk menambah kurikulum dirasa cukup sulit. Selain itu, untuk memberikan pendidikan kesehatan reproduksi, seseorang juga harus dilatih mengenai cara pengajaran yang efektif sehingga remaja paham dan mau berbagi mengenai permasalahannya mengingat issue ini cukup sensitif. Menggantungkan pencegahan HIV-AIDS pada remaja dengan metode ini cukup beresiko karena opsi ini tidak mungkin dilakukan dalam waktu dekat selama pandangan negatif mengenai pendidikan kesehatan reproduksi masih ada.

Opsi ketiga adalah meningkatkan pelayanan kesehatan yang ramah remaja sebagai upaya skreening penularan HIV pada remaja. Selama ini, pandangan remaja pada pelayanan kesehatan masih kurang baik apalagi bila mereka harus memeriksakan kesehatan reproduksinya. Penerimaan petugas kesehatan sangat berpengaruh dalam hal ini. Masih ditemui beberapa kasus di daerah yang menunjukkan judge negatif dari petugas kesehatan yang menerima remaja untuk memeriksakan kesehatan reproduksinya walaupun tidak untuk VCT maupun memeriksakan kehamilan. Selama pelayanan kesehatan masih berpikir negatif terhadap remaja maka opsi ini sulit dilakukan. Namun begitu, Pemerintah telah berupaya dengan melatih dan mengkader petugas Puskesmas untuk memberikan layanan yang ramah remaja. Buku panduan dan monitoring juga telah ada namun hingga tahun 2012, capaian dari pelayanan kesehatan peduli remaja masih bervariasi di berbagai daerah.

Akhirnya munculah opsi yang dipilih yaitu akses kontrasepsi kondom untuk remaja. Pengertian akses kontrasepsi kondom yang terlanjur berkembang di masyarakat memang sedikit berbeda dari yang dimaksudkan untuk pencegahan HIV-AIDS. Akses kodom yang dimaksudkan di sini ialah untuk mereka yang telah seksual aktif. Hal ini tidak berarti petugas Puskesmas mendatangi sebuah sekolah dengan membawa satu boks kondom dan membaginya pada setiap anak yang ia temui. Terdapat proses sehingga petugas bisa memberikan kondom pada seorang remaja. Mereka harus menjalani proses konseling untuk mengetahui perilaku seksualnya. Apabila diketahui remaja tersebut memang seksual aktif barulah kondom diberikan.

Di lapangan, pemberian informasi untuk remaja yang terlanjur seksual aktif tidaklah cukup. Butuh waktu lama atau bahkan tidak mungkin bagi mereka untuk berhenti melakukan hubungan seksual (abstinen) karena banyaknya support bagi mereka untuk melakukannya lagi dan lagi baik dari media massa maupun teman sebayanya. Usia mereka yang masih remaja dan belum menikah juga menyebabkan kecilnya kemungkinan bagi mereka untuk melakukan hubungan seksual dengan hanya satu pasangan (be faithful). Maka dari itu akses kondom bagi remaja yang seksual aktif sepertinya menjadi satu-satunya pilihan.

Meskipun begitu, adanya akses kondom tanpa informasi yang benar dan pelayanan yang baik juga tidak akan menghasilkan apapun. Opsi satu, dua dan tiga juga harus tetap diupayakan agar upaya pencegahan HIV-AIDS pada remaja dapat berjalan optimal. Akses kondom juga bukan tidak mungkin akan menghasilkan masalah lain dalam prakteknya. Pergeseran budaya dan nilai tentang seksualitas jelas-jelas akan muncul sebagai masalah yang tak bisa dihindari. Namun begitu, selama hal tersebut dapat mencegah penyebaran penyakit yang dapat mempengaruhi derajat hidup masyarakat, mengapa tidak dicoba?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s