Smoking Cessation for Maternal Smoking During Pregnancy

 

Nama : Lastdes Cristiany Friday
NIM : 11/326446/PKU/12914

 

A. Latar Belakang Program
Fenomena merokok pada wanita khusunya wanita yang sedang
mengandung telah banyak terjadi dan sudah dimulai sejak masih muda
atau sebelum hamil. Penelitian telah membuktikan bahwa kebiasaan
merokok merupakan faktor risiko kematian perinatal, BBLR, abortus
spontan dan gangguan kehamilan lainnya (Hackshaw et al., 2011).
Kebiasaan merokok ibu ketika hamil yang diteliti oleh Matijasevich et
al., (2011)di Brazil menunjukkan sebagian besar ibu yang memiliki
kebiasaan merokok selama hamil berasal dari sosial ekonomi rendah dan
pendidikan rendah. Hal ini merupakan fenomena kebiasaan merokok yang
terjadi di negara berkembang. Kebiasaan merokok selama kehamilan
tersebut terbukti juga memengaruhi pertumbuhan anak dengan tinggi
badan anak sebagai indikatornya.
Kebiasaan merokok ibu selama hamil merugikan kesehatan baik pada
ibu maupun anak yang dikandung. Menghentikan kebiasaan merokok
memang sulit namun dalam hal ini intervensi untuk menghentikan
kebiasaan merokok pada ibu harus dilakukan demi keselamatan dan
kesehatan ibu dan anaknya.
B. Pilihan kebijakan (Policy Option)
Pilihan kebijakan yang dapat diambil adalah sebagai berikut:
1. Regulasi tembakau yang tegas dan jelas
2. Menghapuskan iklan rokok
3. Menaikkan pajak rokok
4. Usaha berhenti merokok dengan menggunakan PHS guideline for
Smoking Cessation pada pusat pelayanan kesehatan, klinik ataupun
rumah sakit.
Kebijakan yang dipilih adalah PHS guideline for smoking cessation
pada pusat pelayanan kesehatan, klinik ataupun rumah sakit. Hal yang
dilakukan yaitu konseling oleh tenaga terlatih selama 10-15 menit dengan
metode 5 as (ask, advice, asses, assist dan arrange). Merokok adalah

suatu kebiasaan buruk yang sulit untuk diubah karena terkait dengan
perilaku seseorang. Tantangan dari program ini adalah mengubah perilaku
buruk seseorang yang sudah menjadi kebiasaan. Untuk mengubah perilaku
maka diperlukan proses. Setiap proses dilihat perkembangannya supaya
dapat segera dievaluasi apabila ditemukan hambatan.
C. Efektifitas program
Menghentikan kebiasaan merokok pada ibu hamil adalah suatu
tindakan yang penting dilakukan agar kehamilan terjaga. Walaupun
penelitian telah banyak membahas tentang akibat merokok selama
kehamilan, sebagian besar ibu hamil masih belum menghentikan
kebiasaan merokok selama kehamilan. Oleh sebab itu diperlukan
intervensi yang efektif untuk menghentikan kebiasaan merokok.
Program menghentikan kebiasaan merokok pada ibu hamil telah
terbukti dapat diaplikasikan secara luas. Intevensi PHS guideline for
smoking cessation tidak hanya diimplementasikan tapi harus pula
dilakukan monitoring pelaksanaannya. Kegiatan monitoring dan evaluasi
suatu program ini dimaksudkan agar suatu program berjalan efektif dan
efisien.
PHS guideline for smoking cessation yang dikenal dengan metode 5 As
sudah berjalan namun belum diaplikasikan secara luas. PHS guideline for
smoking cessation tetap dapat diterapkan namun sebenarnya ada kebijakan
yang lebih mendasar yaitu regulasi tembakau di suatu negara.
Program ini sebenarnya baik dan berkualitas namun kurangnya follow
up dari tenaga kesehatan membuat program ini tidak berjalan dengan
sepenuhnya walaupun sebenarnya program ini cost-effective. Selain itu
program ini belum menyelesaikan permasalahan hingga ke akar masalah.
Intervensi ini hanya memangkas ujung dari fenomena gunung es namun
tidak mencabutnya hingga ke akar permasalahan rokok yang sebenarnya.

D. Akar Masalah
Upaya menghentikan kebiasaan merokok pada ibu hamil merupakan
upaya yang melibatkan beberapa stake holders yaitu pihak keluarga,
penyedia layanan kesehatan beserta tenaga medis dan paramedis, penentu
kebijakan pada suatu daerah, media sebagai sarana informasi dan tentunya
pemerintah yang membuat regulasi tembakau. Upaya menghentikan
kebiasaan merokok pada ibu hamil pada hakekatnya sama dengan upaya
menghentikan kebiasaan merokok pada umumnya. Akar masalah dari
kebiasaan merokok pada ibu hamil adalah regulasi tembakau yang belum
ada di negara ini sehingga iklan rokok kian merajalela. Dampak dari iklan
rokok membangun sebuah image merokok adalah suatu lambang
modernitas.
Apabila kebijakan yang dipilih adalah regulasi tembakau maka akan
ada aturan yang jelas tentang harga rokok dan promosi rokok. Sebenarnya
hal ini pasti terlintas pula di benak para pembuat kebijakan namun masih
terhambat dengan hati nurani yang hanya ingin mementingkan diri sendiri.
Industri rokok merupakan industri yang menghasilkan uang yang tidak
sedikit karena telah menjadi kebutuhan bagi para pecandu.
Alur pemikirannya adalah apabila ada regulasi tembakau dengan
menaikkan harga pajak tembakau dan menghapuskan iklan rokok maka
harga rokok akan naik dan tidak ada lagi media yang mempromosikan
rokok. Keuntungannya apabila harga naik sampai pada level yang tidak
terjangkau lagi maka para pecandu rokok yang berasal dari ekonomi
menengah ke bawah akan mencari jalan keluar dengan menghentikan
kebiasaan merokok. Hal ini didukung dengan dihapuskannya iklan rokok
sehingga paparan tentang rokok berkurang. Apabila hal ini dilakukan
program PHS guideline for smoking cessation dapat mengambil peranan
sehingga tujuan awal untuk menghentikan kebiasaan merokok tercapai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s