KEBIJAKAN TERPILIH : KAWASAN TANPA ROKOK

Kawasan Tanpa Rokok (KTR) adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan produk tembakau.

Penetapan Kawasan Tanpa Rokok

merupakan upaya perlindungan untuk masyarakat terhadap risiko ancaman gangguan kesehatan karena lingkungan tercemar asap rokok.Penetapan Kawasan Tanpa Rokok in iperlu diselenggarakan di fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutanumum, tempat kerja, tempat umum  dan tempat lain yang ditetapkan,untuk melindungi masyarakat yang ada dari asap rokok.

LANDASAN HUKUM

  1. Instruksi Menteri Kesehatan Nomor 84/Menkes/Inst/II/2002 tentangKawasan Tanpa Rokok di Tempat Kerja dan Sarana Kesehatan
  2. Instruksi Menteri Pedidikan dan Kebudayaan RI Nomor 4/U/1997tentang Lingkungan Sekolah Bebas Rokok
  3. Instruksi Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 161/Menkes/Inst/III/1990 tentang Lingkungan Kerja Bebas Asap Rokok.
  4. Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 44 Tahun 2009 tentang RumahSakit.
  5.  Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 36 Tahun 2009 tentangKesehatan pasal 113 sampai dengan116
  6.  Undang-Undang Republik IndonesiaTahun 2009 tentang Perlindungan danPengelolaan Lingkungan Hidup.
  7.  Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
  8. Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 39 Tahun 1999 tentang HakAsasi Manusia.
  9.  Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
  10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
  11. Peraturan Pemerintah RepublikIndonesia No. 19 Tahun 2003 tentangPengamanan Rokok bagi Kesehatan.
  12. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencema Udara.

Tujuan penetapan Kawasan Tanpa Rokok adalah :

  1. Menurunkan angka kesakitan dan/atau angka kematian dengan cara mengubah perilaku masyarakat untuk hidup sehat.
  2. Meningkatkan produktivitas kerja yang optimal.
  3. Mewujudkan kualitas udara yang sehat dan bersih, bebas dari asap rokok.
  4. Menurunkan angka perokok dan mencegah perokok pemula.
  5. Mewujudkan generasi muda yang sehat

SASARAN KAWASAN TANPA ROKOK

  1. Sasaran di Fasilitas Kesehatan
  • Pimpinan/penanggung jawab/ pengelola fasilitas pelayanan kesehatan.
  •  Pasien.
  • Pengunjung.
  1. sasaran di Tempat  Belajar Mengajar
  • Pimpinan/penanggung jawab/pengelola tempat proses belajarmengajar.
  •  Peserta didik/siswa.
  • Tenaga kependidikan (guru).
  •  Unsur sekolah lainnya (tenagaadministrasi, pegawai di sekolah).
  1. Sasaran di Tempat Anak Bermain
  •  Pimpinan/penanggung jawab/pengelola tempat anak bermain.
  • Pengguna/pengunjung tempat anakbermain
  1. Sasaran di Tempat Ibadah
  •  Pimpinan/penanggung jawab/pengelola tempat ibadah.
  • Jemaah.
  •  Masyarakat di sekitar tempat ibadah.
  1. Sasaran di Angkutan Umum
  •  Pengelola sarana penunjang diangkutan umum (kantin, hiburan, dsb).
  •  Karyawan.
  •  Pengemudi dan awak angkutan.
  • Penumpang.
  1. Sasaran di Tempat Kerja
  •  Pimpinan/penanggung jawab/pengelola sarana penunjang    ditempatkerja(kantin,toko,dsb).
  • Staf/pegawai/karyawan.
  • Tamu.
  1. Sasaran di Tempat Umum
  • Pimpinan/penanggung jawab/pengelola sarana penunjang di tempatumum (restoran, hiburan, dsb).
  •  Karyawan.
  •  Pengunjung/pengguna tempat umum.

Sanksi bagi pelanggar peraturan ini dikenakan  kepada:

  1. orang perorangan berupa sanksi tindak pidana ringan
  2. badan hukum atau badan usaha dikenakan sanksi administratif dan/atau denda.

Mengapa kebijakan kawasan tanpa rokok menjadi  kebijakan terpilih ?

Rokok merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di dunia.Diperkirakan hingga menjelang 2030 kematian akibat merokok akan mencapai 10 juta per tahunnya dan dinegara-negara berkembang diperkirakan tidak kurang 70%kematian yang disebabkan oleh rokok.

Indonesia menempati urutan ke-7 terbesar dalam jumlah kematian yang disebabkan oleh kanker yakni sebanyak 188.100 orang. Kematian yang disebabkan oleh penyakit system pembuluh darah di Indonesia berjumlah 468.700 orang atau menempati urutan ke-6 terbesar dari seluruh negara-negara kelompok WHO. Kematian yang disebabkan oleh penyakit sistem pernafasan adalahpenyakit Chronic ObstructivePulmonary Diseases (COPD) yakni sebesar 73.100 orang (66,6%) sedangkan Asma sebesar 13.690orang (13,7%). Kematian akibat penyakit Tuberkulosis sebesar 127.00orang yang merupakan terbesar ke-3 setelah negara India dan China.

Berbagai evidence based menyatakan bahwa mengonsumsi tembakau dapat menimbulkan penyakit kanker (Mulut,Pharinx, Larinx, Oesophagus, Paru,Pankreas, dan kandung kemih),penyakit sistem pembuluh darah(Jantung Koroner, Aneurisme Aorta,pembuluh darah perifer,Arteriosklerosis, gangguan pembuluhdarah otak) dan sistem pernafasan(Bronchitis, Chronis, Emfisema, ParuObstruktif Kronik, Tuberkulosis Paru,Asma, Radang Paru, dan penyakitsaluran nafas lainnya)

Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun2010 :

• Prevalensi perokok saat ini sebesar 34,7%.

– Lebih dari separuh perokok (52,3%)menghisap 1-10 batang rokoksetiap hari.

– 2 dari 5 perokok saat ini merokokrata-rata 11-20 batang setiap hari.

– 4,7% perokok merokok 21-30batang setiap hari.

– 2,1% perokok merokok lebih dari30 batang setiap hari.

• 76,6% perokok merokok di dalamrumah ketika bersama anggotakeluarga lain.

• 1,7% perokok mulai merokok padausia 5-9 tahun dan tertinggi mulaimerokok padakelompok umur 15-19tahun (43,3%).

• Persentase nasional pendudukberumur 15 tahun ke atas yangmerokok setiap hari sebesar 28,2%.

• Persentase merokok pendudukmerokok tiap hari tampak tinggi padakelompok umur produktif (25-64tahun) dengan rentang 30,7%-32,2%

• Terjadi peningkatan prevalensi perokokyang merokok setiap hari untuk umur25-34 tahun dari 29,0% (2007)menjadi 31,1% (2010). Peningkatanterjadi pada kelompok umur 15-24tahun dari 17,3% (2007) menjadi18,6% (2010).

• Lebih dari separuh (54,1%) penduduklaki-laki berumur 15 tahun ke atasmerupakan perokok tiap hari.

Melihat fakta diatas maka perlu membuat kebijakan untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu kebijakan yang terpilih adalan kawasan tanpa rokok. Dengan adanya kebijakan tersebut paling tidak bisa melindungi perokok pasif dari bahaya akibat rokok.

Alternative kebijakan yang bisa dibuat yaitu menaikan premi untuk rokok ,dengan pajak yang besar maka kemungkinan juga akan berdampak pada harga rokok yang akan naik sehingga dirasa mahal oleh konsumen. Namun faktanya para perokok tidak memperdulikan berapapun harga rokok walaupun mereka dari kelas ekonomi rendah, Biaya rata-rata yang dibelanjakan oleh individu perokok untuk membeli tembakau dalam satu bulan adalahRp.216.000 dan itu jumlah yang cukup besar bagi orang-orang kelas ekonomi rendah sehingga kebijakan ini juga tidak terlalu berdampak signifikan untuk mengurangi jumlah perokok. Kebijakan alternative lainya yaitu melarang iklan merokok baik dimedia cetak maupun elektronik. Diharapkan dengan adanya larangan ini maka paparan informasi tentang rokok akan berkurang sehingga paling tidak generasi muda tidak sedini mungkin terpapar rokok karena faktanya perokok pada remaja juga cukup tinggi.

Penetapan Kawasan Tanpa Rokok sebenarnya selama ini telah banyak diupayakan oleh berbagai pihak baik lembaga/institusi pemerintah maupun swasta dan masyarakat. Namun pada kenyataannya upaya yang telah dilakukan tersebut jauh tertinggal dibandingkan dengan penjualan,periklanan/promosi dan atau penggunaan rokok.Rendahnya kesadaran masyarakat tentang bahaya merokok pun menjadi alasan sulitnya penetapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan pada pelaksanaan kebijakan kawasan tanpa rokok belum secara tegas menerapkan sangsi kepada pelanggarnya sehingga akar masalahnya belum bisa teratasi sepenuhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s