KEBIJAKAN Gerakan/kampanye perlindungan terhadap perokok pasif

 

Pentingnya Kebijakan Perlindungan Terhadap Perokok Pasif

Kebijakan tentang merokok telah diatur dalam Pasal 115 ayat (1) UU No. 36 Tahun 2009 yang menyebutkan: “Kawasan tanpa rokok antara lain: a. fasilitas pelayanan kesehatan; b. tempat proses belajar mengajar; c. tempat anak bermain; d. tempat ibadah; e. angkutan umum; f. tempat kerja; dan g. tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan”; sedangkan ayat (2) menyebutkan bahwa: “Pemerintah daerah wajib menetapkan kawasan tanpa rokok di wilayahnya”. Jika ketentuan ini telah diterapkan, maka sebenarnya perokok pasif akan terlindung dari asap rokok. Namun berdasarkan Global Adult Tobacco Survey (GATS) yang dilaksanakan di Indonesia pada tahun 2011 menunjukkan tingginya persentase perokok pasif pada penduduk berusia ≥15 tahun, yaitu 51,3% di dalam ruang kerja; 78,4% di rumah; 63,4% di gedung pemerintah; 17,9% di fasilitas pelayanan kesehatan; 85,4% di restoran, dan 70% di sarana transportasi umum. Kelompok ini bahkan akan berisiko lebih besar untuk terjadinya berbagai penyakit akibat rokok dibandingkan perokok aktif yang besarnya 34,8%. Bahaya asap rokok terhadap perokok pasif sebenarnya sudah diketahui oleh 74,7% responden, yaitu dapat mengakibatkan penyakit akibat rokok yang serius. Hal inilah yang menjadi alasan pentingnya isu kebijakan perlindungan terhadap perokok pasif.

Argumen Kebijakan yang Lemah

Ada 3 alternatif kebijakan untuk menjadi bahan pertimbangan. Alternatif pertama adalah penerapan sanksi hukum terhadap pelanggaran yang terkait dengan kebijakan merokok. Sekalipun sudah ada aturannya, namun terlihat masih banyak iklan atau sponsor rokok di berbagai tempat, yang dapat menjadi pertanda rendahnya kepatuhan atau ketaatan terhadap aturan, sementara di pihak lain para pelaku pelanggaran mungkin tidak akan jera karena tidak ada sanksi hukum bagi pelanggaran yang dilakukan. Hal ini tentunya sulit untuk menyurutkan keinginan perokok aktif untuk berhenti merokok, yang akan berdampak untuk meningkatkan risiko paparan asap rokok terhadap perokok pasif. Alternatif kedua adalah monitoring pelaksanaan kebijakan tentang merokok secara periodik. Kebijakan ini memang harus dilakukan dalam setiap kegiatan, namun terdapat kelemahan, yaitu hanya dapat dilakukan oleh tim khusus yang betul-betul menguasai kebijakan ini secara komprehensif. Alternatif ketiga adalah gerakan/kampanye perlindungan terhadap perokok pasif, yang nampaknya paling gampang untuk diterapkan di lapangan karena dapat dilakukan oleh berbagai kalangan, baik institusi pemerintah, swasta, organisasi-organisasi (misalnya IDI, Badan Eksekutif Mahasiswa, OSIS, dll.) maupun kelompok masyarakat yang sangat kecil (misalnya dasa wisma, RT, RW, kelompok pengajian, dll.).

Efektifkah Kebijakan Ini?

Kebijakan ini paling efektif dibandingkan dua kebiajakan alternatif lainnya karena dapat dilakukan oleh berbagai kalangan di berbagai tempat dan waktu. Tentunya akan menghemat waktu karena dapat dilakukan secara paralel; menghemat anggaran pemerintah karena ada partisipasi dari masyarkat. Namun kebijakan ini tetap tidak dapat berdiri sendiri untuk mencapai outcome yang diharapkan dalam program pengendalian tembakau/rokok.

Apakah Akar Masalahnya Tepat?

Selama ini program pengendalian tembakau, termasuk rokok, lebih banyak difokuskan untuk menurunkan prevalensi perokok aktif, perusahaan-perusahaan yang memproduksi rokok, serta iklan-iklan/promosinya, padahal ada kelompok lain, yaitu perokok pasif dengan persentase yang cukup tinggi, yang tidak terlindungi dari dampak asap rokok dari perokok aktif. Beranjak dari inilah ditemukan akar masalahnya yang diikuti dengan penentuan kebijakan dari tiga alternatif yang telah dipilih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s