Kebijakan Eliminasi Iklan, Promosi, dan Sponsor Rokok

Mengapa eliminasi iklan, promosi, dan sponsor rokok menjadi agenda
kebijakan?
Kematian akibat tembakau diseluruh dunia amat mengejutkan. Eliminasi iklan
rokok merupakan isu kebijakan karena 2 hal. Pertama, dampak dari tembakau
khususnya rokok sangat merugikan bagi kesehatan tubuh manusia, karena dapat menimbulkan penyakit seperti kanker paru, jantung dan berbagai penyakit berbahaya lainnya. Seperti perkiraan global, penyebab kematian di Indonesia yang terkait konsumsi tembakau adalah penyakit jantung, stroke, kanker, penyakit pernapasan khususnya chronic obstructive pulmonary (penyakit paru obstruktif kronik). Ketergantungan terhadap rokok disinyalir disebabkan oleh zat adiksi (nikotin) yang terkandung pada asap yang keluar saat rokok saat dibakar atau dikonsumsi. Menghisap asap tembakau mengantarkan nikotin dalam jumlah yang besar kedalam otak secara cepat. Bukti-bukti dari penelitian yang dilakukan selama 10 tahun terakhir menunjukan bahwa lebih dari 50 persen perokok meninggal akibat kecanduan. Rokok diperkirakan menyebabkan kematian 427.948 orang/tahun pada tahun 2001 atau sekitar 1.172 orang/hari. Separuh
kematian akibat rokok berada pada usia produktif. Kedua, masyarakat yang
kurang mampu sudah memiliki dana yang terbatas tetapi jika mereka termakan dengan promosi iklan rokok, maka dana yang terbatas itu membuat mereka makin boros. Oleh sebab itu, diperlukan kebijakan yang kuat untuk menekan dampakdampak tersebut.
Argumen kebijakan yang lemah
Kebijakan eliminasi iklan, promosi, dan sponsor rokok merupakan langkah yang paling tepat. Eliminasi iklan rokok membuat masyarakat tidak terpapar dengan ajakan merokok. Untuk mengatasi epidemi tembakau, organisasi kesehatan sedunia (WHO) mengajak negara anggotannya untuk menerapkan strategi MPOWER. Strategi MPOWER terdiri atas 6 upaya pengendalian tembakau yang meliputi : Monitor prevalensi penggunaan tembakau dan pencegahannya, perlindungan terhadap asap tembakau, optimalisasi dukungan untuk berhenti merokok, waspadakan masyarakat akan bahaya tembakau, eliminasi iklan, promosi dan sponsor tembakau, serta raih kenaikan cukai tembakau.
Efektifkah kebijakan ini?
Kebijakan eliminasi iklan, promosi, dan sponsor rokok ini merupakan langkah
yang tepat untuk kondisi sekarang. Hal tersebut disebabkan dari hasil pemantauan aktivitas industri rokok di Indonesia periode Januari – Oktober 2007 yang dilakukan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak, industri rokok menggunakan semua jenis iklan langsung untuk mengiklankan produknya dengan memanfaatkan beragam media baik luar ruang maupun media cetak dan elektronik. Semua PP yang pernah ada membolehkan iklan di media cetak maupun media luar ruangan, sementara PP 19/2003 mengizinkan penayangan iklan rokok di media elektronik dari jam 21.30-05.00 WIB. Batasan ini terbukti tidak efektif dalam membatasi periklanan rokok di Indonesia, justru hanya membuat iklan rokok semakin kreatif.
Sehingga diperlukan kebijakan yang kuat mengenai eliminasi iklan rokok. Jika
langkah ini tidak diambil maka dampak yang ditimbulkan makin parah.
Apa akar masalahnya tepat?
Banyak anggapan yang beredar luas dalam masyarakat jika merokok itu dapat membuat pikiran tenang dan menyingkirkan beban masalah sehari-hari. Jika kebijakan ini ingin diperbaiki, maka alternatif lain harus dicari untuk bisa mengubah mitos tentang menghilangkan stres dengan merokok. Iklan rokok di berbagai media dianggap tidak tepat dan sebagai akar masalah dari persentase yang besar dalam kebiasaan merokok di kalangan masyarakat kurang mampu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s