Kebijakan Penetapan dan Penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Tempat Umum

 

Mengapa Kawasan Tanpa Rokok (KTR) menjadi agenda kebijakan?
Hal penting mengapa Kawasan Tanpa Rokok (KTR) menjadi sebuah kebijakan adalah bahwa rokok merupakan salah satu zat adiktif yang bila digunakan mengakibatkan bahaya bagi kesehatan individu dan masyarakat. Kebutuhan yang kompleks menuntut masyarakat bermobilitas di banyak tempat umum. Dimana tempat umum tersebut dianggap sebagai area bebas berekspresi, salah satunya “berekspresi merokok”. Sekilas, memang tidak tampak sebagai kejahatan, layaknya pencopetan, perampokan, dan kejahatan dengan kekerasan lainnya. Namun paparan asap rokok dapat berpengaruh terhadap kejadian penyakit bahkan dapat sebagai pembunuh terhadap semua kalangan masyarakat. Banyak penyakit pernapasan atau penyakit kronis lainnya yang dapat disebabkan oleh perokok. Ironisnya, perokok pasif menanggung risiko lebih besar daripada para “tersangka”nya, yaitu perokok aktif. Oleh karena itu kebijakan kewajiban menetapkan dan menerapkan KTR sangat diperlukan sebagai agenda kebijakan.
Argumen kebijakan yang lemah
Banyak faktor yang menjadikan kebijakan ini menjadi kurang diperhatikan oleh para penanggung jawab tempat umum yang seharusnya ditetapkan KTR. Ada beberapa tempat umum yang sudah menetapkan KTR, namun aplikasinya tidak diterapkan. Bahkan tidak sedikit para penangung jawab tersebut justru menjadi pioneer dalam merokok. Sehingga KTR sulit unutk dijalankan selama tidak ada reward and punishment yang jelas, baik kepada masyarakat maupun penangung jawab tempat umum. Alangkah baiknya jika pelaksanaan KTR didahului dengan memberikan penyuluhan dan pengetahuan megenai bahaya merokok bagi perokok dan perokok pasif. Atau alternatif yang lebih ekstrim, yaitu pelarangan membawa rokok di tempat umum. Namun, ini akan sangat sulit dijalankan karena kurang efektif dan efisien.

Efektifkah kebijakan ini?
Kebijakan menetapkan dan menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KRT) sebenarnya merupakan kebijakan yang tepat untuk mengurangi asap rokok di tempat umum. Namun demikian, kebijakan ini menjadi tidak efektif karena tidak ada reward and punishment yang jelas. Sehingga masyarakat merasa tidak terikat aturan merokok. Meskipun berbagai media telah digunakan, missal pamflet KTR yang ditempel diberbagai sudut tidak akan efektif jika tidak ada aturan yang “memaksa”.
Tidak adanya pengawasan dan pidana yang kuat membuat masyarakat selalu mengabaikan KTR, meskipun sebenarnya perokok tahu bahaya merokok di tempat umum. Oleh karena itu, diperlukan keberanian dan komitmen yang kuat dari penanggung jawab tempat-tempat umum untuk melaksanakan KTR dengan tertib.
Apa akar masalahnya tepat?
Perlu adanya penyelenggaraan pengamanan rokok bagi kesehatan yang bertujuan untuk mencegah penyakit akibat penggunaan rokok bagi individu dan masyarakat dengan melindungi kesehatan masyarakat terhadap insidensi penyakit yang fatal dan penyakit yang dapat menurunkan kualitas hidup akibat penggunaan rokok, melindungi penduduk usia produktif dan remaja dari dorongan lingkungan dan pengaruh iklan untuk inisiasi penggunaan dan ketergantungan terhadap rokok, meningkatkan kesadaran, kewaspadaan, kemampuan dan kegiatan masyarakat terhadap bahaya kesehatan terhadap penggunaan rokok. Dengan demikian, akar masalah yang nyata adalah rendahnya pengetahuan, kesadaran, kewaspadaan masyarakat akan bahaya rokok, terutama para perokok. Harus diberi pengertian bahwa penanggung bahaya rokok bukan hanya perokok itu sendiri, namun juga berakibat pada keluarga dan para sahabatnya yang tidak merokok.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s